MAKALAH
TEKNOLOGI PENGOLAHAN REMPAH DAN MINYAK ATSIRI
“ KUNYIT “









OLEH :
NARTI RUMODAR
2014-57-011

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2017



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.            Latar belakang.
Umbian rempah banyak dimanfaatkan sebagai bumbu masakan yaitu sebagai bahan tambahan makanan (BTM) alami. Meskipun sedikit jumlah yang ditambahkan dalam pengolahan makanan tapi komponen aktif di dalamnya, dalam bentuk senyawa aromatik dan fitokimia, mampu meningkatkan cita rasa (flavour enhancer), aroma, antioksidan, dan bahkan antibakteri (bakteriostatik dan bakteriosidal) (Tapsell, 2006). Kunyit dan kencur adalah umbian rempah yang banyak digunakan dalam proses pembuatan bumbu masakan. Di samping itu kunyit banyak digunakan untuk pereda beberapa penyakit, seperti penyakit lambung, anti gatal, anti kejang, dan menghilangkan bengkak.  Sedangkan, diantara penyakit yang umumnya diobati dengan kencur adalah radang lambung, radang anak telinga, influenza, masuk angin, sakit kepala, diare, dan penambah nafsu makan (Rahayu, t.t.).

1.2.            Rumusan Masalah
·           Kunyit sebagai antioksidan
·           Kunyit sebagai antimikroba
·           Kunyit sebagai obat-obat
·           Kunyit sebagai pengawet













BAB II
PEMBAHASAN
2.1. . Kunyit sebagai Antioksidan
Hasil uji kapasitas antioksidan atau juga disebut uji penghambatan radikal bebas menunjukkan bahwa kunyit ekstrak kering memiliki kapasitas antioksidan tertinggi (80,67 %) dibandingan perlakuan ekstrak lainnya dari jenis kunyit maupun kencur. Sedangkan untuk kencur, perlakuan ekstrak kering memiliki kapasitas antioksidan lebih tinggi (34,6 %) dibandingkan ekstrak segar maupun panggang. Ini menunjukkan bahwa potensi antioksidan kunyit sangat besar untuk mengurangi timbulnya reaksi oksidasi dan menangkap radikal-radikal bebas. Untuk memiliki efek yang besar yaitu nilai IC diatas 50 % maka ekstrak kencur harus ditingkatkan konsentrasinya, karena kapasitas antioksidan kencur relatif rendah

2.2. Kunyit sebagai Antimikroba
Penghambatan Ekstrak Kunyit danKencur (dengan Pelarut Metanol 96%) Dari penelitian ini tidak ditemukan penghambatan ekstrak kunyit maupun kencur terhadap pertumbuhan Eschericia coli dan Staphilococcus aureus. Sedangkan penghambatan ciproproxa- zone terhadap Escherichia coli dan penghambatan sulfametaxazole terhadap Staphilococcus aureus cukup besar terlihat dengan adanya warna terang penghambatan selebar 22 mm. Dari penelitian ini, ekstrak kunyit dan kencur dengan pelarut metanol 96% belum menunjukkan efek penghambatan bakteri Escherichia coli dan Staphilococcus aureus. Diduga bahwa ekstraksi kunyit dan kencur tanpa pelarut dan dengan pelarut metanol 96 % belum optimal mengeluarkan bahan bioaktif untuk dapat menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri tersebut seperti senyawa fenolik, flavonoid, alkaloid dan sesquiterpenoid. Hal lain adalah bahwa konsentrasi senyawa aktif di dalam ekstrak masih rendah, atau dengan kata lain bahwa ekstrak tersebut adalah ekstrak kasar (terdiri dari berbagai komponen-komponen lain yang larut dalam air).   Sehingga kadar senyawa bioaktif yang memiliki efek anti bakteri relatif kecil di dalam ekstrak kunyit dan kencur tersebut.
2.3. Kunyit sebagai Obat-obatan
            Dari penelitian ini diperoleh 25 komponen utama dengan 4 fraksi relatif yang dominan, yaitu 1-Phellandrene (C10H16) 9%, 1,8 Cineole (C10H18O) 4,58%, AR- Turmeron (C15H20O) 31%, dan Bicyclo 17% (C9H14O). Telah dilaporkan bahwa teknik analisis GCMS telah digunakan dalam penentuan dan pemisahan senyawa aktif minyak atsiri Curcuma longa,14-16 minyak atsiri Curcuma caesia roxb dan minyak atsiri Rhizoma ligustici.17-18 Terdapat dua puluh lima komponen utama di dalam minyak atsiri kunyit berdasarkan teknik pemisahan GCMS. Berdasarkan hasil analisis GCMS seperti pada kromatogram  (Gambar  1),  terdapat  lima  komponen utama minyak atsiri kunyit sesuai persentase fraksi relatifnya, diketahui senyawa AR-Turmeron (C15H20O) 31% merupakan komponen yang dominan yang diduga menjadi senyawa aktif minyak volatil kunyit. Senyawa aktif kurkumin yang selama ini dikaji merupakan hasil ekstrak rimpang kunyit yang diketahui mampu menurunkan aktivitas sekresi TNF-α pada penderita osteoartritis.Dilaporkan penggunaan kombinasi ekstrak kunyit menurunkan infiltrasi sel-sel leukosit pada osteoartritis. Setiap kapsul yang digunakan untuk pengujian pada subyek penelitian kelompok perlakuan dosis 25 mg/kg BB  atau  berisi  0,5  mL  minyak  atsiri  kunyit  dan diberikan 2 kapsul 3 kali sehari. Penentuan dosis pada manusia ditentukan berdasarkan penelitian sebelumnya mengenai daya anti radang minyak atsiri kunyit pada hewan coba dan dikonversikan berdasarkan berat badan.
Uji Toksisitas Akut. Dari hasil uji toksisitas akut, perlakuan minyak atsiri kunyit dosis antara 100-2560 mg/kg  BB  tidak  menunjukkan  perubahan  pada  nafsu makan, aktivitas gerak dan kematian. Pada dosis perlakuan  antara  5000-8000  mg/kg  BB  terjadi penurunan  berat  badan  dan  penurunan  nafsu  makan pada semua kelompok perlakuan. Pada kelompok I terjadi kematian mencit pada jam ke-8 pasca perlakuan sebanyak 100% (Tabel 2) kelompok II terjadi kematian sebanyak 50% pada jam ke-20 pasca perlakuan, sedangkan  kelompok  III  dan  kelompok  kontrol  tidak ada yang mati (0%). Kematian mencit pada kelompok I dan II diawali dengan gejala kejang/syarafi. Pada kelompok kontrol dan kelompok III tidak terjadi perubahan nafsu makan, aktivitas gerak dan gejala abnormalitas syaraf serta tidak ada yang mati walaupun terjadi penurunan berat badan.
2.4. kunyit sebagai pengawet
Pengawetan yang biasa dilakukan cukup beragam mulai penggunaan pendingin, radiasi, bahkan sampai menggunakan formalin dan bahan aditif, Salah satunya adalah kunyit (Curcuma domestica Val) yang terbukti mengandung bahan-bahan yang dapat berfungsi sebagai antibakteri. Rimpang kunyit mengandung senyawa kurkumin yang bersifat sebagai antibakteri (Rahman, 2009). Senyawa lain yang juga bersifat sebagai antibakteri yang terdapat dalam rimpang kunyit adalah minyak atsiri (Marwati, 1996).
Rimpang tanaman kunyit dapat  mempertahankan mutu ikan layang karena mengandung senyawa-senyawa kurkumin dan minyak atsiri yang mempunyai kemampuan  menghambat pertumbuhan bakteri. Hasil uji TVB menunjukan bahwa semakin tinggi konsentrasi
kunyit maka nilai TVB ikan layang semakin rendah. Ini berarti bahwa daya penghambat kunyit terhadap pertumbuhan bakteri semakin baik.
Hal ini di sebabkan oleh zat-zat yang terkandung dalam kunyit yaitu minyak atsiri yang bersifat sebagai antibakteri. Golongan terpenoid adalah merupakan senyawa penyusun minyak atsiri golongan terpenoid yang memiliki aktivitas antibakteri adalah borneol, soneol, pinene, kamfene, kamjor, nerelidol dan kadinen
(Pandiangan, 2008).


















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari mamakalh yang saya buat apat di simpulkan bahwa, rempah ternyata mempunyai banyak manfaat untuk obat-obatan, antimikroba, flavour makanan, pangawet, antioksidan.
Salah satu rempah yang memiliki ke 5 sifat ini ialah KUNYIT.
Dalam hal ini kunyit mempunyai fungsi yang sangat besar untuk kesehatan dan untuk menambah cita rasa pada makanan.
Juga kandungan-kandungan yang terdapat dalam Kunyit ini sangatlah berperan aktif dalam ke 5 sifat tersebut.

B.     Saran
Dapat di sarankan untuk lebih banyak mengkonsumsi kunyitn dalam hal penambah rasa dan juga jangan takut untuk mengolah untuk obat karena terbukti bahwa khasiat untuk tubuh.














DAFTAR PUSTAKA

Azima. 2011. Efektifitas Kunyit Sebagai Bahan  Pengawet Alami Terhadap Masa Simpan Nugget Jagung. http://pasca.unand.ac.id/id/wpcontent/\ uploads/2011/09/efektivitas-kunyit-sebagaipengawet-alami.pdf. [15Februari2013]
Yacob, T., R. Endriani. 2010. Daya anti bakteri ekstrak etanol ketepeng cina (Senna
alata) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara in vitro.
Jurnal Natur Indonesia, 13(1): 63-66. Padwinata, K., dan Soediro, I. 1988. 142 Flavonoid. Pusat Antar Universitas, Bidang Ilmu Hayati, ITB. Bandung.
Chang SJ, Chen CJ, Tsai FC, Lai HM, Tsai PC, Tsai MH, Ko YC. Associations between gout tophus and polymorphism 869T/C and -509CT in transforming growth factor Ь1 gene, J Rheuma
2008; 47(5):617-621



Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH FISIKA "GERAK PARABOLA"

(Makalah) Bentuk-Bentuk Organisasi

Fungsi arccos, arcsin, arctan dalam excel 2010